Halaman

Sabtu, 21 Desember 2013

RENUNGAN DAN DOA MILAD

Assalamu Alaikum Wr Wb
Allahumma Shalli Ala Sayyidina Muhammad Wa Ala Ali Sayyidina Muhammad ‪#‎Shalawat‬



***  ***


Makin dekat waktu kita untuk berjumpa ilaahanaa..
Semoga ilmu, iman dan amal saleh menjadi penghias sisa usia..

Akhlak sebagai pakaiannya,
dan langkah yang lurus menjadi terompanya..
Aamiin..

Teriring doa untuk seluruh keluarga dan kawan-kawan,
agar Allah ampuni semua dosa, panjangkan umur, sehat, ringan dan ni’mat beribadah..
Dikabul hajat, ditolong, banyak kemudahan, tercapai cita-cita..
Punya keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah..
Punya anak cucu dan keturunan yang saleh salehah, lagi cukup hidupnya..
Mulia, selamat, sukses, dunia akhirat..

Rukun-rukun, damai, jauh dari pertikaian, perselisihan,
dan jauh pula dari dosa-dosa baru yang menjauhkan diri dengan Allah dan RasulNya..

Kelak, diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah, bersih, siap untuk bertemu dengan Allah..

Salam untuk semua salam dan doa yang tidak terjawab..



Jogja, 19 Desember 2013.

Yusuf Mansur

Rabu, 02 Oktober 2013

CIRI-CIRI WANITA SOLEHAH MENURUT AL-QURAN

Siapakah wanita sholehah yang slalu di damba oleh setiap pria, dan bagaimana ciri-cirinya ??
baiklah akan saya ambilkan dari ayat al-qur'an dan tafsir nya tentang siapa dan bagaimana ciri-ciri wanita sholehah

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

"Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka." (An-Nisa: 34)

Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan di antara sifat wanita shalihah adalah taat kepada Allah dan kepada suaminya dalam perkara yang ma'ruf lagi memelihara dirinya ketika suaminya tidak berada di sampingnya.

"Tugas seorang istri adalah menunaikan ketaatan kepada Rabbnya dan taat kepada suaminya, karena itulah Allah berfirman: "Wanita shalihah adalah yang taat," yakni taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada." Yakni taat kepada suami mereka bahkan ketika suaminya tidak ada (sedang bepergian, pen.), dia menjaga suaminya dengan menjaga dirinya dan harta suaminya." (Taisir Al-Karimir Rahman, hal.177)

Ada kisah Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menghadapi permasalahan dengan istri-istrinya sampai beliau bersumpah tidak akan mencampuri mereka selama sebulan, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan kepada Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam:

عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تآئِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سآئِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

"Jika sampai Nabi menceraikan kalian, mudah-mudahan Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian, muslimat, mukminat, qanitat, taibat, 'abidat, saihat dari kalangan janda ataupun gadis." (At-Tahrim: 5)

Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan beberapa sifat istri yang shalihah yaitu:

a. Muslimat: wanita-wanita yang ikhlas (kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala), tunduk kepada perintah Allah ta'ala dan perintah Rasul-Nya.
b. Mukminat: wanita-wanita yang membenarkan perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala
c. Qanitat: wanita-wanita yang taat
d. Taibat: wanita-wanita yang selalu bertaubat dari dosa-dosa mereka, selalu kembali kepada perintah (perkara yang ditetapkan) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam walaupun harus meninggalkan apa yang disenangi oleh hawa nafsu mereka.
e. 'Abidat: wanita-wanita yang banyak melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (dengan mentauhidkannya karena semua yang dimaksud dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur'an adalah tauhid, kata Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma).
f. Shoimat: wanita-wanita yang berpuasa. (Al-Jami' li Ahkamil Qur'an, 18/126-127, Tafsir Ibnu Katsir, 8/132)

Istri-istri sholehah bisa kita rinci dengan lainnya yang Akan Q ambil keterangan-keterangannya dari hadis,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

"Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai." (HR. Ahmad 1/191)

1. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى

"Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: "Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha." (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257.)

2. Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya, tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.

3. Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya. Asma' bintu Yazid radhiallahu 'anha menceritakan dia pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita sedang duduk. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: "Barangkali ada seorang suami yang menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya bersama suaminya?" Maka mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma) pun menjawab: "Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri) benar-benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami)." Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

فَلاَ تَفْعَلُوا، فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ

"Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti syaithan jantan yang bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya sementara manusia menontonnya." (HR. Ahmad 6/456,)

4. Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ
"Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya". (HR. Abu Dawud no. 1417.)
5. Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/ safar), ia tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya untuk istimta' (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
"Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya". (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)
6. Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur." Ada yang bertanya kepada beliau: "Apakah mereka kufur kepada Allah?" Beliau menjawab: "Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: "Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali." (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda:
لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي عَنْهُ
"Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya." (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa.)

Istri-istri sholehah bisa kita rinci dengan lainnya yang Akan Q ambil keterangan-keterangannya dari hadis,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

"Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai." (HR. Ahmad 1/191)

1. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى

"Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: "Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha." (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257.)

2. Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya, tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.

3. Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya. Asma' bintu Yazid radhiallahu 'anha menceritakan dia pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita sedang duduk. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: "Barangkali ada seorang suami yang menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya bersama suaminya?" Maka mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma) pun menjawab: "Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri) benar-benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami)." Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

فَلاَ تَفْعَلُوا، فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ

"Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti syaithan jantan yang bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya sementara manusia menontonnya." (HR. Ahmad 6/456,)

4. Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ
"Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya". (HR. Abu Dawud no. 1417.)
5. Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/ safar), ia tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya untuk istimta' (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
"Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya". (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)
6. Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur." Ada yang bertanya kepada beliau: "Apakah mereka kufur kepada Allah?" Beliau menjawab: "Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: "Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali." (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda:
لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي عَنْهُ
"Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya." (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa.)

** Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkan, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala.

Minggu, 01 September 2013

Proposal Kegiatan

PPPA DAARUL QUR'AN
Yayasan Daarul Qur'an Nusantara

Nomor : 002/DMC-pppA/yDeNlV/2013                                                        Semarang, September 2013
Lamp : 1(satu) berkas
Hal ; Kerjasama Event

Kepada Yth,
Bapak/lbu Pimpinan
Di Tempat















Sabtu, 27 Juli 2013

Rumah Tahfidz

Rumah Tafidz di masjid Gelora Indah Purwokerto


RUMAH TAHFIDZ  
PPPA Daarul Qur’an

*    PENDAHULUAN

Kata Nabi Muhammad SAW, “Allah mempunyai keluarga diantara manusia.” Para sahabatpun bertanya? “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Mereka keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya” (HR Ahmad)

Indonesia adalah Negara  mayoritas penduduknya Muslim, tetapi kenyataan yang terjadi sekarang adalah melemahnya Identitas kita sebagai negara muslim. Ini dapat dilihat dengan banyaknya masyarakat yang masih susah dalam menjaga Istiqomahnya dalam beribadah karena berbagai macam alasan bekerja, belajar, berdagang, dll.

Wisatahati dengan Ponpes Daarul Qur’an merupakan wadah yang dapat dijadikan sebagai motor penggerak masyarakat untuk dapat bersama-sama mengembalikan Citra Indonesia yang merupakan Negara muslim dengan menjaga amal ibadahnya wajib ataupun sunnah. Dengan menjalankan Daqu Method, diharapkan Identitas kita sebagai muslim baik di mata Allah SWT dan Negara lain jauh lebih berkualitas.

Rumah Tahfidz Daarul Qur’an merupakan program  yang digagas  oleh Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an, program  ini mengembangkan centra-centra tahfidz di lingkungan masyarakat dan perusahaan. Ide dasarnya   untuk membibit dan mencetak para penghafal Al-Qur’an. dengan melibatkan pontesi masyarakat yang ada.
Rumah Tahfidz Daarul Qur’an menjadi salah satu sarana dan wadah dalam membangun generasi yang qur’ani dan berakhlakul karimah.  Tidak mesti memerlukan dana yang besar untuk membangun Rumah Tahfidz ini, hanya menyewa beberapa rumah dan menempatkan anak-anak SD yang duduk di kelas 4,5 dan 6 untuk didik sebagai penghafal Al-Qur’an. pada akhirnya anak-anak ini yang akan  mewarnai perkembangan Pesantren Daarul Qur’an diberbagai daerah.
Operasional Rumah Tahfidz pun memaksimalkan pontesi yang ada, seperti pusat pembelajaraan tahfidz dilakukan di masjid atau mushola  dan santri-santri pun sekolah  menggunakan sekolah yang sudah ada di lingkungan tersebut. kecuali guru-guru tahfidz yang  akan training  oleh PPPA Daarul Qur’an dengan tujuan agar misi dan visi pendidikannya tidak berbeda dengan sistem Pesantren Daarul Qur’an yang telah dikembangkan. Dengan sinergi program antara PPPA Daarul Qur’an dengan Rumah Tahfidz Daarul Qur’an diharapkan 100.000  pengahafal Al-Qur’an dapat lebih cepat diwujudkan


*      VISI



Menjadi wahana dalam masyarakat untuk mencetak generasi penghafal AL-Qur’an dan menjalankan Daqu Method yang merupakan keteraturan ibadah terhadap Allah SWT yang dapat dijalankan secara bersama-sama dengan istiqomah


*      MISI


1.         Melaksanakan pengajaran kepada masyarakat tentang Daqu Method:
a.        Sholat fardhu berjamaah diawal waktu plus shalat Qobliyah-Ba’diyahnya plus dzikirnya
b.        Sholat Sunah, Sholat Dhuha, Sholat Tahajjud (Qiyamul Lail)
c.         Puasa Sunah Senin Kemis dan Daud
d.        Tahfidz Qur’an
e.        Sedekah

2.         Menanamkan sifat keikhlasan dalam masyarakat tentang beribadah
3.         Melaksanakan bimbingan pada masyarakat secara terpadu
4.         Memotivasi masyarakat dalam mempelajari Al-Qur’an

*      SASARAN PROGRAM
Masyarakat

*      MANFAAT PROGRAM
1.    Masyarakat
Masyarakat yang berkeinginan untuk mempelajari dan menghafal Al-Qur’an.
2.    Lembaga/perusahaan
Lembaga sebagai inisiator program akan mendapatkan citra positif ditengah masyarakat, karena minimnya perhatian lembaga-lembaga agama terhadap pen
gkaderan dan pembibitan penghafal Al-Qur’an sebagai sumber utama dalam Islam.

*      PENGORGANISASIAN
Persyaratan :
1.     Syarat Pendirian Rumah Tahfidz
a.     Rumah tahfidz dapat bekerjasama (bermitra) dengan :
§  Lembaga Dakwah (Masjid, Majelis Ta’lim, dan sejenisnya)
§  Lembaga Sosial Kemasyarakatan
§  Perusahaan
§  Ormas Islam
§  Lembaga Pendidikan
§  Perorangan
Catatan: Rumah tahfidz tidak di perbolehkan dan digunakan untuk kegiatan politik praktis

b.     Kewajiban Mitra Rumah Tahfidz:
§  Menyediakan Tempat Tinggal untuk Tenaga Pengajar dan Santri mukim
§  Bersedia berkoordinasi dengan PPPA Daarul Qur’an
§  Mempunyai donatur yang bersedia membiayai operasional Rumah Tahfidz 
              
2.     Syarat Guru Tahfidz
§  Diutamakan yang sudah menikah
§  Hafal 30 Juz + Syahadah
§  Mampu memberikan pengajaran Tahfidz dengan baik sesuai standar Daarul Qur’an
§  Tidak mengajarkan hal – hal yang bertentangan dengan Al Qur’an & Sunah
3.     Syarat Santri
§  Diutamakan yang berprestasi
§  Mampu  baca dan tulis Al-Qur’an
§  Foto Copy KK
§  Foto Copy KTP wali santri
§  Surat keterangan sehat dari dokter
4.     Syarat Kelembagaan
§   Ada surat penunjukkan dari PPPA Daarul Qur’an
§   Ada tempat untuk KBM
§   Status  tempat tidak bermasalah
§   Mampu menampung sekitar kurang lebih 15 santri
§   Tidak bermasalah dengan lingkungan sekitar
§   Adanya jaminan secara sosial bahwa tempat tersebut dapat dipergunakan untuk rumah tahfidz.
5.     Syarat Pengajaran
§   Sesuai denga standar dan metode Daarul qur’an
§   Adanya laporan secara periodik
§   Seorang pengajar bertanggung jawab pada peserta didiknya
§   Setiap Pengajar mebimbing 10 – 20 santri
§   Pengajar berkewajiban memberikan penilaian terjadap peserta didik
§   Pengajar berkewajiban melakukan kontrol dan evaluasi terhadap peserta didik
§   Pengajar bertanggung jawab dalam memberikan laporanya pada pengawas area
§   Dalam penajarannya tidak dibenarkan memberkan hal – hal yang menyimpang dari Al Qur’an & Sunah

* JADWAL & KURIKULUM

      
*      TARGET DAN TUJUAN


1.     Target:
a.     Masyarakat dapat memahami dan menguasai Daqu Method
b.     Masyarakat dapat menjalankan Daqu Method secara Istiqomah
c.      Masyarakat dapat meningkatkan hafalan Al Qur’an
d.     Masyarakat dapat mengajarkan dan mengajak masyarakat lainnya untuk melakukan hal yang sama
e.     Terwujudnya generasi qurani yang berkualitas

2.    Tujuan:
menjadikan Rumah Tahfidz sebagai sentra – sentra kader penghafal al Qur’an di berbagai daerah.

*      SISTEM PELAKSANAAN


1.      Daarul Qur’an merupakan fasilitator program (penyedia Assatidz/ Guru Pembimbing) dimana fasilitator tersebut telah lulus uji kompetensi yang sesuai dengan standart ilmu yang ditetapkan Daarul Qur’an (menguasai Daqu Method).
2.      Pelaksanaan Program Rumah Tahfidz dilakukan sesuaikan ketentuan PPPA Daarul Qur’an (terlampir dalam pentunjuk pengajaran)

*     PETUNJUK
    PELAKSANAAN

1.    Persiapan tempat Rumah Tahfidz untuk kegiatan belajar mengajar
2.    Penyeleksian calon guru Tahfidz
3.    Penerimaan calon santri – santri Rumah tahfidz dari anak setempat
4.    Pendaftaran dan pendataan santri Rumah Tahfidz
5.    Pemberian form laporan santri untuk mutabaah  
6.    Persiapan & pelaksanaan belajar Qur’an
7.    Penilain tahfidz masing – masing santri oleh pengajar
8.    Evaluasi & monitoring mutabaah laporan santri setiap hari yang ditandatangani oleh pengajar
9.            Evaluasi dan laporan dari pengajar ke pengawas area setiap 2 mingguan
10.        Pelaporan pengawas area kepada daarul qur’an setiap bulanya

*      EVALUASI DAN CONTROLLING
Controlling
1.        Rumah Tahfidz Daarul Qur’an bertanggung jawab kepada PPPA Daarul Qur’an
2.        Pengawasan Rumah Tahfidz akan dilakukan oleh seorang penanggung jawab area (wilayah)
3.        Rumah Tahfidz Daarul Qur’an melaporkan kegiatan setiap sebulan sekali  kepada PPPA Daarul Qur’an
4.        Apabila dalam perjalannya terdapat ketidak sesuaian atau bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunah maka PPPA dapat mencabut dan  membekukan izin rumah tahfidz

Evaluasi
1.        Evaluasi dilakukan secara berjenjang
2.        Evaluasi tahap pertama yaitu pengajar pada santri yang dilakukan setiap hari
3.        Evaluasi tahap Kedua yaitu penanggung jawab area terhadap pengajar dilakukan  2 minggu sekali
4.        Evaluasi tahap ketiga yaitu PPPA Daarul Qur’an pada penanggung jawab area yang dilakukan sebulan sekali


*      INDIKATOR KEBERHASILAN PENGAJARAN

1.      Rumah Tahfidz  Daarul QUr’an dapat membudayakan Daqu Method kepada santri, guru, pengelola dan masyarakat
2.      Rumah Tahfidz Daarul Qur’an menjadi pusat informasi Al-Qur’an bagi masyarakat di sekitar
3.      Bertambahnya hafalan Al Qur’an yang mampu dibaca & dihafal secara baik dan benar oleh Mitra tersebut.

*      STANDAR LAPORAN



*      PENUTUP
Demikian sistem dan prosedur ini dibuat, semoga bermanfaat dalam mengembangkan dan mencetak para penghafal Al-Qur’an


Jakarta
Divisi Program PPPA Daarul Qur’an



Jumat, 21 Desember 2012

FADHILAH SHALAT DHUHA

Assalamu Alaikum Wr Wb
Allahumma Shalli Ala Sayyidina Muhammad Wa Ala Ali Sayyidina Muhammad #Shalawat


***  ***


1. Allah memerintah agar kita selalu bertasbih kepada-Nya di kala pagi dan sore, shalat dhuha merupakan sarana untuk kita bertasbih
Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi. (QS. Shaad : 18)


2. Menghidupkan sunnah Rasulullah , suatu keharusan ; sebagai wujud kecintaan kepadanya.
Bila kecintaan sudah terbukti maka layak masuk surga bersamanya
Dari Anas Bin Malik rodhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Rasulullah bersabda:
" Siapa yang menghidupkan sunnahku, maka dia telah mencintaiku, dan siapa yang mencintaiku maka ia layak bersamaku di surga."
(HR. Tirmidzi)


Pelengkap Ibadah Wajib ; dinamakan wajib karena ada yang sunnah
Dari Ibnu Umar rodhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: Rasulullah bersabda:

Perintah yang pertama kali diwajibkan kepada ummatku adalah shalat lima waktu, yang pertama kali diangkat dari amal perbuatan mereka adalah shalat lima waktu, dan yang pertama kali dipertanyakan dari amal perbuatan mereka adalah shalat lima waktu. Barangsiapa yang pernah meninggalkan sesuatu daripadanya maka Allah SWT berfirman (kepada malaikat): lihatlah ! Apakah kalian mendapatkan dari hamba-Ku shalat-shalat sunnah yang menyempurnakan kekurangannya dari shalat fardhu ?

Lihatlah puasa ramadhan hamba-Ku, apabila tertinggal (pernah tidak berpuasa) maka lihatlah apakah hamba-Ku mempunyai pahala puasa sunnah yang akan menyempurnakan kekurangan puasa wajibnya? Dan lihatlah zakat hamba-Ku, bila ia sempat tidak mengeluarkannya maka lihatlah apakah kalian mendapatkan hambaku bersedekah yang akan menyempurnakan kekurangan zakatnya?
Maka diambilah pahala sunnah tersebut untuk melengkapi kekurangan atas kewajiban yang Allah perintahkan, yang demikian terjadi karena rahmat Allah dan keadilan-Nya.
Apabila didapati pahalanya lebih banyak (melengkapi pahala ibadah wajib) dalam timbangannya, maka dikatakan kepadanya: masuklah surga dengan senang hati.
Namun bila tidak didapati satupun pahala sunnahnya, maka Malaikat Zabaniyyah akan diperintah oleh Allah untuk menyeret tangan dan kakinya kemudian dilempar ke neraka.
(HR. Ahmad & Al-Haakim)


3. Dhuha termasuk tiga sunnah yang tidak layak ditinggalkan

Dari Abu Hurairah r.a , beliau berkata:
" Sahabatku (Rasulullah ) menasihatiku akan tiga hal (yang tidak akan pernah kutinggalkan hingga ku mati) : puasa tiga hari setiap bulan (puasa bhidh), dua raka'at shalat dhuha dan agar aku melaksanakan shalat witir sebelum tidur.
(HR. Bukhari dan Muslim)


4. Wirid & Do'anya

Dari Ibnu Umar r.a, beliau berkata :
Dalam satu majelis Rasulullah dibiasakan membaca doa berikut seratus kali sebelum beliau bangun :
Rabbigh fir lii wa tub 'alayya innaka antat tawwaabul ghafur
Duhai Tuhanku, ampuni daku dan terimalah taubatku, karena sesunguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Pengampun.
(Di takhrij oleh Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah dan Nasaa'i)

Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, ketentuan adalah ketentuan-Mu, perlindungan adalah perlindungan-Mu. Ya Allah bilamana rizkiku ada di langit maka turunkanlah, dan bilamana rizkiku ada di dasar bumi maka keluarkanlah, bilamana rizkiku sulit maka mudahkanlah, bila rizkiku bercampur haram maka sucikanlah, bilamana rizkiku jauh maka dekatkanlah, dengan kebenaran waktu dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu dan ketentuan-Mu maka anugerahkan hamba karunia sebagaimana Engkau telah menganugerahkannya kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh.


4. Allah akan mencukupi hari-hari kita

Dari Nawwas bin Sam'an r.a, Bahwasanya Rasulullah bersabda :
Sesungguhnya Allah 'Azza Wa Jalla berfirman, " Wahai anak Adam, cukuplah bagi-Ku empat rakaat di awal hari, maka Aku akan mencukupimu di sore harimu. "
(HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa'i)

Dari Abi Darda dan Abi Dzarr r.a, Dari Allah tabaroka wata'ala, Sesungguhnya Allah tabaroka wata'ala berfirman:

" Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari awal hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya. "
(Ditakhrij oleh Imam Tirmidzi)


5. Tiap raka'atnya mengandung keutamaan

Dari Abdillah bin Amr Assahmiy, beliau merafakan kepada Abi Dzarr, dan Abi Dzarr merafakannya kepada Nabi , beliau bersabda:

Siapa saja yang melaksanakan dua raka'at shalat dhuha maka dia tidak akan dicatat sebagai hamba yang lalai, Siapa saja yang melaksanakan empat raka'at maka dia akan dicatat sebagai hamba yang taat, Siapa saja yang melaksanakan enam raka'at maka akan dicukupka kebutuhannya pada hari itu, Siapa saja yang melaksanakan delapan raka'at maka dia akan dicatat sebagai ahli ibadah, Siapa saja yang melaksanakan duabelas maka Allah akan membangunkan rumah di surga,Tidak ada satu hari atau satu malampun kecuali Allah memilih hamba yang diberi nikmat untuk bisa bersedekah dan tidaklah Allah memberikan sesuatu yang lebih baik kepada hamba-Nya selain memberikan petunjuk untuk bisa berdzikir (mengingat-Nya) (HR. Thabrani)

Bersumber dari khabar Abu Dzarr r.a : Nabi bersabda:
Bila engkau melaksanakan dua raka'at shalat dhuha maka engkau tidak dicatat sebagai hamba yang lalai, atau empat raka'at maka engkau akan dicatat sebagai hamba yang muhsinin (berbuat baik), atau enam raka'at engkau akan dicatat sebagai hamba yang ta'at, atau delapan maka engkau akan dicatat sebagai hamba yang juara, atau sepuluh maka pada hari itu dosamu tidak dicatat, atau duabelas maka Allah akan membangunkan rumah di surga. (HR. Al-Bayhaqi)


6. Pahala dua raka'atnya setara dengan sedekah persendian yang tinggi sekali nilainya

Dari Abi Dzarr r.a, beliau berkata : Rasulullah bersabda:

Di setiap sendi seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir (ucapan Allahu akbar) adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah.
Dan dua rakaat Dhuha sebanding dengan pahala semua itu.
(HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud)


7. Dua raka'atnya sama dengan nilai sedekah dari 360 sendi kita

Dari Buraidah r.a, Bahwasanya Rasulullah bersabda:
Di dalam tubuh manusia ada 360 sendi, dan dia harus mengelurakan sedekah untuk tiap persendiannya itu, setiap sendi satu sedekah. Para sahabat bertanya, Siapa yang sanggup melakukan itu ya Rasulullah? Beliau bersabda, Menghilangkan dahak (kotoran) di masjid, atau membuang sesuatu yang mengganggu di jalan, maka bila tidak sanggup cukup diganti dengan dua raka'at shalat dhuha yang pahalanya serupa dengannya.
(HR. Ahmad dan Abu Dawud)


8. Dhuha, tempat usaha atau bisnis terdekat jaraknya dari rumah, keuntungannya lebih banyak, pulangnya lebih cepat

Abdillah bin Amru r.a meriwayatkan, Rasulullah mengirim sebuah pasukan perang. Lalu mereka mendapatkan harta rampasan perang dan kembali dengan segera. Meraka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah (keuntungan) yang diperoleh dan cepat kembalinya (karena dekat jaraknya).

Lalu Rasulullah bersabda :
"Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan) nya dan lebih cepat kembalinya?
Mereka menjawab; Ya!

Rasul berkata lagi:
Barangsiapa yang berwudhu', kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat Dhuha, dia lah yang paling dekat tujuanannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya."
(HR. Ahmad, Thabrani dan Abu Ya'la)


9. Diampuni dosa-dosa kita; nikmat yang bagaimana lagi yang kita harapkan dari Allah Al Ghofuur yang lebih besar daripada pengampunan dosa?

Dari Abi Hurairah r.a, beliau berkata : Rasulullah bersabda :
Siapa saja yang menjaga dua raka'at dhuha maka akan diampuni dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.
(HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Syaibah)


10. Masuk surga dengan kasih sayang Allah
Dari Abi Hurairoh rodhiyallahu 'anhu, beliau berkata :
Rasulullah bersabda:
Sesungguhnya di surga ada salahsatu pintu yang dinamakan pintu dhuha, bila datang hari qiyamat malaikat penjaga surge memanggil: mana dia yang melazimkan shalat dhuha? Inilah pintu kalian maka masukilah dengan kasih sayang Allah. (HR. Thabrani)



Sumnber : Dari berbagai sumber